Montag, 27. August 2012
19 Juni 2012
Hari ini aku berulang tahun. Aku sempat khawatir tidak bisa ber-skype ria dengan bapak, ibu, adikku. Dan ternyata memang tidak. Ibu tidak sedang dirumah. Beliau ada pelatihan petugas medis haji. 2 minggu lamanya. Aku sempat putus asa. Dan aku ingat, tanggal 18 Juni ga konsen belajar. Dan kalau sedang tidak tenang biasanya aku menangis. Dan benar saja, di pelajaran fisika aku diam-diam menangis. Rindu berulang tahun bersama keluarga.
Namun aku kembali tenang. Aku ingat tgl 19 harus masak. Karena aku ingin makan bersama teman-teman disini pada hari ulang tahunku. Tanggal 18 malam sudah kupersiapkan semuanya. Dan waktunya untuk tidur. Aku ingin bangun tengah malam. hehe. Biasanya temanku, namanya wika, tidur bersamaku. Namun waktu itu wika sedang di kamar putri. Dia juga temanku. Dia membawa kunci kamarku, agar aku tidak perlu repot-repot membukakan pintu. Dan akhirnya aku tidur.
Sekitar jam setengah 1 dini hari aku terbangun. Aku syok ketika melihat kamar dibuka dan melihat sosok yang benar-benar membuat aku kaget. Dia adalah Arda. Temanku juga. Setelah itu muncul teman-temanku yang lain, putri, wika, clara, gilang, andi, ben, haikal, yunus, dan kak billy. Ternyata mereka menyiapkan kejutan tengah malam untukku. Dan aku tidak menyadari ketika sebelum tidur wika pinjam kunci kamarku. Kukira ya itu hal biasa. Dan acara potong kue dan tiup lilinpun terjadi. Arda yang bawa lilinnya lho. Hehe. First cake buat Arda dong. hehe. Dilanjut pada kasi hadiah. Terus foto-foto.
Aku terharu banget dikasi kejutan kaya gini. Walaupun dengan kondisi aku yang ngantuk, rambut berantakan, pokoknya ga banget. Terima kasih banyak untuk teman-teman seperjuangan. Aku sayang kalian. Terima kasih. Walaupun tanpa keluarga disini, kebahagiaan itu tetap ada bersama teman-teman.
Terima kasih Ya Allah. Terima kasih banyak sebanyak banyaknya. Semoga di sisa usia ini selalu Engkau ridhoi. Amin.
Sonntag, 26. August 2012
18 Januari 2012
Hari itu ibuku ulang tahun. Dan hari itu aku berangkat ke jerman. Aku tak bisa berkata banyak kepada ibuku hari itu. Aku takut menangis karena harus pergi. Aku hanya bercanda, " ibu gaya. Ulang tahun di bandara Soekarno-Hatta". Maaf ya Bu, anakmu pergi disaat engkau berulang tahun. Semoga ibu selalu bahagia dan selalu dalam lindungan Allah. Ibu yang selalu menginspirasiku. Ibu yang membuatku bisa melewati semua ini. Maaf, juni bandel dan buat ibu jengkel selama ini.Juni sayang ibu, selalu.
Untuk bapak, mungkin kita sama-sama bandel ya.. hehe. Tapi bapak adalah bapak paling hebat. Terima kasih telah mendidik juni sekeras ini. Juni jadi bisa menyelesaikan semua sendiri. Mancing, ke sawah, ke gunung, ke kebon, ndorong gerobak, main burung dara, ke bengkel, naik perahu. Walau bapak jarang di rumah, tapi sebelum juni ke jerman, bapak selalu dirumah. Juni kangen solat diimamin sama bapak. Kangen balapan ke meja makan waktu buka puasa. Hehe. Juni sayang bapak juga, selalu.
Tyas, adiku, temen curhat, temen main, temen berantem. Mungkin kamu itu sayang sama aku. Hehe. Manja bgt kamu sih. Tapi aku sayang kamu. Jujur, aku lebih kangen kamu daripada kangen sama bapak ibu. hehe. Tyas, maaf ya kalo aku nakal. Habis aku gemes bgt sama kamu. Hehe. Tetep jadi diri sendiri ya yas, jangan terpengaruh orang lain. Jangan sembarangan bergaul sama orang. Jangan alay ya... hehe. miss you so much my sist.
Aku lebih banyak diam di hari ini. Bingung. Saat-saat terakhir. Aku akan pulang kok, tapi entah kapan. Karena itu aku diam. Aku takut tak bisa menahan semua dan menangis. Lebih baik aku diam. I had the best day with you, today.
Samstag, 25. August 2012
2012
Sudah lama sekali ga menjamah blog ini. Mungkin saya tidak menyempatkan diri untuk kembali menulis.Semoga sekarang dan seterusnya saya akan tetap menulis. Amin. 2012, tahun ini. sekarang sudah bulan Agustus.Tahun pertama di saya di Jerman. Sudah 7 bulan sejak kedatangan saya pertama tanggal 19 Januari 2012. Januari dan Februari saya habiskan di ibukota, Berlin. Saya tinggal di sebuah apartemen bergaya klasik di Bundesplatz 9, no.13 bersama 9 teman dari Indonesia. Apartemen ini cukup besar dan mewah.
Dan dimulailah petualangan saya di Jerman. Dengan berbagai masalah birokrasi dan romantisme remaja.
Saya harus kembali mengikuti kelas bahasa Jerman. Hari-hari saya habiskan di Hartnackschule mulai pukul 9 pagi hingga setengah 4 sore bersama Frau Stickel dan Herr Axel. Guru favorit saya adalah Herr Axel. Keduanya adalah orang Jerman asli yang menurut saya benar-benar mencerminkan watak orang asing yang saya tahu, tepat waktu dan dingin. Namun Herr Axel berbeda. Beliau cenderung lebih santai dan menyelipkan humor setiap mengajar. Beliau juga berpengetahuan luas. Tak jarang kami diajak diskusi tentang politik, budaya, atau hal lain. Sangat menyenangkan.
Januari Februari adalah puncak musim dingin di Jerman. Suhu minus belasan bahkan 20 derajat sudah saya alami. Kedinginan di kamar sampai flu gara-gara Heizung (pemanas ruangan) mati. Kemana-mana harus berjaket tebal. Itulah musim dingin.
Sedikit dulu ya, setengah jam lagi buka puasa. Persiapan dulu. ^^
-Juni jaman jahiliyah bersama Frau Stickel di Hartnackschule, hari terakhir kelas Deutsch sebelum ke Koethen-
-Indonesische Veranstaltung (Pertemuan bareng orang Indonesia) di Harnackschule bersama pemilik Hartnackschule-
-Kumpul anak-anak Progress bareng Betreuer di Nusantara sebelum pada pisah ke kota masing-masing-
-Foto bareng temen sekelas sama Herr Axel di hari terakhir kelas Deutsch Hartnackschule-
-Juni dan Lala, sebelum main suling bambu di Indonesische Veranstaltung-
Dienstag, 11. Oktober 2011
LUTUNG KASARUNG
Es war einmal gab es ein Reich, hiess Pajajaran. Der König war Siliwangi. Er hatte zwei Kinder von schone Frau, Banyak Cotro und Banyak Ngampar. Aber seine Frau war gestorben und er hatte wieder Frau. Er hatte zwei Kinder von zweiten Frau, Banyak Blabur und Dewi Pamungkas. Banyak Blabur und Banyak Cotro waren „Putra Mahkota“. Prabu Siliwangi hoffte, Banyak Blabur einen König von Pajajaran war, aber Banyak Blabur fühlte, er hatte noch nicht genug Wissenschaft und hatte keine Frau. Er suchte eine Frau für ihn. Die Frau musste schön sein als wie ihre Mutter.
Bevor ging er, er traf einen Pfarrer, Ki Ajar Wirangrong, um die Aufträge zu bekommen. Er wollte seine Zwecken erreichbarn. Der Pfarrer sagte dass er muβte ein gewöhnliche Mann sein, hiess Raden Kamandaka. Er war da für. Er ging auf Tangkuban Perahu Berg nach Osten. Er ging bis ein Reich, hiess Pasir Luhur. Er traf Patih Reksonoto, ein Angestelle von dem Reich. Patih Reksonoto war alt und hatte kein Kind. Kamandaka war sein Kind. Er war fröhlich, hatte das schöne höfliche Kind als Raden Kamandaka.
Es gab ein Fisch Fest in Logawa, ein Fluss in Pasir Luhur. Alle Angestellen von Pasir Luhur waren in dort. Kamandaka ging dort um Patih Reksonoto nicht zu weissen. Dort traf er mit Dewi Ciptoroso, eine Prinzessin von Pasir Luhur König, und sie sich verliebten. Dewi Ciptososo war sehr schön wie Kamandakas Mutter. Am Abend traf Kamandaka mit Dewi Ciptoroso in einem „Kaputren“ Garten. Das war nicht lange denn Helfers von Pasir Luhur wiesen, dass es einen Feind gab. Kamandaka konnte abgehen, aber er sprach, dass er Patih Reksonotos Sohn war. Der König von Pasir Luhur rufte am Morgen Reksonoto an. Bevor das, Reksonoto lieβ Kamandaka zu gehen von Pasir Luhur. Kamandaka konnte abgehen und die Leute sprachen, dass er gestorben war. Dewi Ciptoroso war sehr traurig, die Nachrichten zu hören. Aber, Kamandaka war heil und traf mit Rekajaya. Er wohnte mit alte Frau, Mbok Kertosuro. Sie hatte einen Hahn, hiess Mercu. Kamandaka war einen Hahnrennen Mann.
Der König von Pasir Luhur war sehr wüttend, die Nachricht zu hören, und er versuchte wieder Kamandaka aufzufangen. Silihwarni half ihm. Silihwarni versprach, dass er sich für Pasir Luhur weih. Silihwarni war Banyak Ngampar, Banyak Cotros oder Kamandakas Bruder. Prabu Siliwangi lieβ Banyak Ngampar um seiner Bruder, Banyak Cotro (Kamandaka) zu suchen.
Silihwarni und Kamandaka trafen und rannten die Hähne. Sie wiesen nicht denn sie wandelten die gewöhnliche Männer. Ein Dolch von Silihwarni, „Kujang Pamungkas“ verwundte Kamandakas Magen. Er ging bis eine Höhle. In der Höhle sprach er seine echte Identität. Silihwarni bewusst, dass er falsch war. Er entschuldigte sich und half seiner Bruder. Er tötet einen Hund. Er nahm sein Blut und sein Herz, um König von Pasir Luhur zu geben. Er wollte sprechen, dass das Blut und das Herz Kamandakas waren.
Kamandaka versteckte sich und hatte Meditation in der Höhle, um Ciptoroso zu heiraten. Danach nahmt er eine Aufträge, um einen Affe zu wandeln. Der Affe hiess Lutung Kasarung denn es war sehr zahm.
Eines Tages jagte König von Pasir Luhur und findet Lutung Kasarung. Er bringte Lutung Kasarung zu Hause. Rekajaya sprach dass er Lutung Kasarung pflegte. Aber viele Leute wollten Lutung Kasarung bekommen. Deshalb machte König von Pasir Luhur ein Preisausschreiben. Wenn ein Person Lutung Kasarung füttern konnte, hatte es der Affe. Ciptoroso war sehr gern für der Affe und sie war gewinnen. Am Abend wandelte Lutung zu Kamandaka und nur Ciptoroso wies das. Sie waren sehr fröhlich.
In einem Tag werbte König Pulebahas von Nusakambangan zu Ciptoroso. Er war boschaft und gerissen. Er lieβ Jurangbahas, sein Bruder, um die Aufgabe zu machen. Ciptoroso war immer mit Lutung Kasarung. Sie gab eine Bedingung, dass Pulebahas allein war, um sie zu treffen. Sie waren da für.
Wenn Pulebahas mit Ciptoroso traf, störte Lutung Kasarung sie. Pule Bahas war wüttend und angreifte Lutung Kasarung. Aber Lutung war gewinnen. Raja Pulebahas war gestorben. Lutung wandelte sich Banyak Cotro mit seiner Kleidung von Pajajaran. Banyak Cotro und Ciptoroso heirateten.
Prabu Siliwangi war sehr fröhlich um die Nachrichten zu hören. Aber das war verboten, dass der König von Pajajaran keine Körperbehinderung bei dem Kujang Pamungkas Dolch hatte. Banyak Cotro konnte nicht der König von Pajajaran. Er war nur der König von Pasir Luhur, nahmt Vater von Dewi Ciptoroso über. Endlich, König von Pajajaran war Banyak Blabur, Prabu Siliwangis Sohn von zweiten Frau.
Maaf bila ada banyak kesalahan kata dan tata bahasa dalam cerita ini.
Bevor ging er, er traf einen Pfarrer, Ki Ajar Wirangrong, um die Aufträge zu bekommen. Er wollte seine Zwecken erreichbarn. Der Pfarrer sagte dass er muβte ein gewöhnliche Mann sein, hiess Raden Kamandaka. Er war da für. Er ging auf Tangkuban Perahu Berg nach Osten. Er ging bis ein Reich, hiess Pasir Luhur. Er traf Patih Reksonoto, ein Angestelle von dem Reich. Patih Reksonoto war alt und hatte kein Kind. Kamandaka war sein Kind. Er war fröhlich, hatte das schöne höfliche Kind als Raden Kamandaka.
Es gab ein Fisch Fest in Logawa, ein Fluss in Pasir Luhur. Alle Angestellen von Pasir Luhur waren in dort. Kamandaka ging dort um Patih Reksonoto nicht zu weissen. Dort traf er mit Dewi Ciptoroso, eine Prinzessin von Pasir Luhur König, und sie sich verliebten. Dewi Ciptososo war sehr schön wie Kamandakas Mutter. Am Abend traf Kamandaka mit Dewi Ciptoroso in einem „Kaputren“ Garten. Das war nicht lange denn Helfers von Pasir Luhur wiesen, dass es einen Feind gab. Kamandaka konnte abgehen, aber er sprach, dass er Patih Reksonotos Sohn war. Der König von Pasir Luhur rufte am Morgen Reksonoto an. Bevor das, Reksonoto lieβ Kamandaka zu gehen von Pasir Luhur. Kamandaka konnte abgehen und die Leute sprachen, dass er gestorben war. Dewi Ciptoroso war sehr traurig, die Nachrichten zu hören. Aber, Kamandaka war heil und traf mit Rekajaya. Er wohnte mit alte Frau, Mbok Kertosuro. Sie hatte einen Hahn, hiess Mercu. Kamandaka war einen Hahnrennen Mann.
Der König von Pasir Luhur war sehr wüttend, die Nachricht zu hören, und er versuchte wieder Kamandaka aufzufangen. Silihwarni half ihm. Silihwarni versprach, dass er sich für Pasir Luhur weih. Silihwarni war Banyak Ngampar, Banyak Cotros oder Kamandakas Bruder. Prabu Siliwangi lieβ Banyak Ngampar um seiner Bruder, Banyak Cotro (Kamandaka) zu suchen.
Silihwarni und Kamandaka trafen und rannten die Hähne. Sie wiesen nicht denn sie wandelten die gewöhnliche Männer. Ein Dolch von Silihwarni, „Kujang Pamungkas“ verwundte Kamandakas Magen. Er ging bis eine Höhle. In der Höhle sprach er seine echte Identität. Silihwarni bewusst, dass er falsch war. Er entschuldigte sich und half seiner Bruder. Er tötet einen Hund. Er nahm sein Blut und sein Herz, um König von Pasir Luhur zu geben. Er wollte sprechen, dass das Blut und das Herz Kamandakas waren.
Kamandaka versteckte sich und hatte Meditation in der Höhle, um Ciptoroso zu heiraten. Danach nahmt er eine Aufträge, um einen Affe zu wandeln. Der Affe hiess Lutung Kasarung denn es war sehr zahm.
Eines Tages jagte König von Pasir Luhur und findet Lutung Kasarung. Er bringte Lutung Kasarung zu Hause. Rekajaya sprach dass er Lutung Kasarung pflegte. Aber viele Leute wollten Lutung Kasarung bekommen. Deshalb machte König von Pasir Luhur ein Preisausschreiben. Wenn ein Person Lutung Kasarung füttern konnte, hatte es der Affe. Ciptoroso war sehr gern für der Affe und sie war gewinnen. Am Abend wandelte Lutung zu Kamandaka und nur Ciptoroso wies das. Sie waren sehr fröhlich.
In einem Tag werbte König Pulebahas von Nusakambangan zu Ciptoroso. Er war boschaft und gerissen. Er lieβ Jurangbahas, sein Bruder, um die Aufgabe zu machen. Ciptoroso war immer mit Lutung Kasarung. Sie gab eine Bedingung, dass Pulebahas allein war, um sie zu treffen. Sie waren da für.
Wenn Pulebahas mit Ciptoroso traf, störte Lutung Kasarung sie. Pule Bahas war wüttend und angreifte Lutung Kasarung. Aber Lutung war gewinnen. Raja Pulebahas war gestorben. Lutung wandelte sich Banyak Cotro mit seiner Kleidung von Pajajaran. Banyak Cotro und Ciptoroso heirateten.
Prabu Siliwangi war sehr fröhlich um die Nachrichten zu hören. Aber das war verboten, dass der König von Pajajaran keine Körperbehinderung bei dem Kujang Pamungkas Dolch hatte. Banyak Cotro konnte nicht der König von Pajajaran. Er war nur der König von Pasir Luhur, nahmt Vater von Dewi Ciptoroso über. Endlich, König von Pajajaran war Banyak Blabur, Prabu Siliwangis Sohn von zweiten Frau.
Maaf bila ada banyak kesalahan kata dan tata bahasa dalam cerita ini.
Jembatan Pembebasan
Toni Rüttimann
Jembatan Pembebasan
Toni Rüttimann (43) adalah warga dunia. Rumahnya di kaki langit. Ia ‚kaya-raya‘. Hartanya yang berlimpah itu bernama cinta. Wujudnya jembatan gantung yang dibangun bersama warga desa miskin. Di situ ia meletakkan hatinya.
Oleh Maria Hartiningsih.
Toni yang populer dengan julukan ‘Toni el Suizo’ (Tony dari Swiss) di Ekuador dan sekitarnya, mendeskripsikan kerja yang dihidupinya 24 tahun itu sebagai ‘kisah cinta’. “Membangun jembatan untuk mengurangi penderitaan mereka yang menderita adalah cara saya mengekspresikan rasa cinta pada kehidupan,” ungkap Toni.
Pada zaman seperti ini, Toni adalah manusia “langka”, begitu kata sosiolog Imam Prasodjo. Bersama sang istri, Gita, pasangan pendiri lembaga kemanusiaan Nurani Dunia itu banyak membantu Toni, khususnya ketika menghadapi kerumitan mengeluarkan kabel baja seberat 25 ton dari pabean.
Toni memulai kerja kemanusiaan yang unik, dengan membantu membangun jembatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Setelah jembatan pertama yang dibangun bersama korban gempa di Ekuador tahun 1987, ia juga membantu warga di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Sebanyak 556 jembatan gantung dengan panjang antara 30 sampai 264 meter telah dibangun. Di Indonesia, yang terpanjang, 95,49 meter di Lumajang, Jawa Timur.
Jembatan yang dibangun itu untuk menggantikan jembatan yang hanyut karena banjir bandang, gempa atau bencana lain. Namun, sebagian besar dibangun karena memang tak ada jembatan untuk melewati sungai yang arusnya sangat deras, atau di lembah dan di daerah-daerah terpencil.
Toni dijumpai pada petang terakhirnya di Indonesia, Minggu (14/8). Esoknya ia bertolak ke Myanmar, sebelum kembali ke Swiss untuk merawat ayahnya yang sakit.
“Keramat”
Toni mempertahankan biaya pembangunan jembatan serendah mungkin dengan kualitas terbaik. Jembatan serupa bisa berlipat harganya dengan „proyek“. Selama 20 tahun, tak satu pun jembatan yang dibangun rusak berat sehingga harus diganti.
Bahan kabel, pipa dan pelat baja diperoleh dari donasi pengusaha. Sumbangan uang berasal dari individu warga Swiss. Ia menolak bantuan dari pemerintah, dana hibah atau bantuan lembaga donor. Ia tak membayar dirinya, tak punya sekretaris, tak punya situs internet dan kantor. Ia tidur di rumah warga, menyantap makanan lokal. Namun, ia juga meminta warga yang butuh jembatan bekerja bersama-sama dan menyediakan material lokal, seperti batu dan pasir, untuk fondasi.
Semua kebutuhan hidupnya masuk ke dalam dua tas yang bisa dibawa ke kabin pesawat, termasuk laptop, telepon seluler, penyimpan data elektronik, dan beberapa file kerja. Ia terbang dengan tiket termurah, dan tak tinggal lebih dari lima hari di satu tempat.
Bagaimana Anda Hidup?
Hidup saya sederhana dan praktis. Banyak orang membantu, termasuk yang menyumbang uang untuk membeli kebutuhan pembangunan jembatan yang tak bisa didapat dengan gratis. Saya tak pernah minta sumbangan, tetapi kami, kolega para ahli las dan saya, selalu merasa cukup.
Jadi Anda tak minta sumbangan?
Mereka yang melihat saya di televisi meresponsnya. Di Swiss, pasangan yang menikah meminta tamu tidak memberi hadiah, tetapi uang untuk disumbangkan bagi pembangunan jembatan. Mereka yang meninggal berpesan agar uang untuk membeli karangan bunga disumbangkan. Beberapa lainnya menulis surat warisan.
Seorang anak berumur 10 tahun bermain biola di jalanan di Davos, dekat desa Ibu saya, menulis pesan di bawah dekat kotak sumbangan, ‘Saya bermain untuk jembatan Toni’. Ia mengirim kepada kami sekitar 400 franc Swiss.
Itu sebabnya setiap sen franc Swiss yang dipercayakan kepada saya sangat keramat, sekeramat jembatan yang kami bangun bersama.
Meluas ke Asia
Dalam perjalanannya 13 tahun pertama, Toni kemudian ditemani seorang ahli las, Walter Yanez, warga Ekuador yang militan dalam misi yang sama. Mereka keluar masuk mencari tempat-tempat paling terisolasi dan paling miskin di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, dan Argentina.
Pada tahun 2000, PM Hun Sen dari Kamboja meminta bantuan Toni membangun jembatan di negeri yang diluluhlantakkan perang itu. Toni bertolak ke Asia, sementara Walter melanjutkan kerja kemanusiaan di Amerika Latin di bawah pengawasan Toni. Dibantu ahli las, mekanik dan warga, smpai Agustus 2011, berhasil dibangun 214 jembatan di Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Laos.
Toni membutuhkan lima minggu dan tiga kali kunjungan untuk menyelesaikan satu jembatan gantung. Kunjungan pertama untuk mencari lokasi, membuat survei, menghitung biaya, dan meminta warga membentuk kelompok kerja untuk membantunya. Kunjungan kedua untuk membuat fondasi, butuh tiga minggu supaya benar-benar kering dan kuat. Ensembel jembatan membutuhkan beberapa hari. Setelah itu ia berlalu.
Bagaimana Anda memulai semua ini?
Suatu hari ketika baru lulus SMA tahun 1987, saya menonton berita di TV tentang gempa besar di Ekuador. Ribuan orang tewas dan kehilangan tempat tinggal. Saya merasa dipanggil unuk berbuat sesuatu. Ketika saya bilang kepada ayah, ia mengatakan, ‘Apa yang bisa kamu lakukan di sana? Kalau kamu tak pergi juga tak ada yang rugi.‘
Ayah benar. Tetapi saya harus pergi. Saya mendapat sumbangan dari teman-teman sekitar 9300 franc Swiss atau aekitar 7500 dollar AS saat itu untuk beli tiket dan berbagai keperluan nanti. Daerah bencana terletak 450 kilometer dari ibu kota, ke arah timur laut kawasan Amazon. Dibutuhkan tiga hari untuk mencapainya.
Gempa menyebabkan wilayah itu terisolasi. Bantuan sulit karena prasarana hancur. Waktu itu mulai terpikir membuat jembatan gantung. Saya mendapat bantuan pipa dan kabel baja dari perusahaan minyak Amerika, dan membeli keperluan lain seperti semen dari uang yang saya bawa. Seorang ahli perminyakan berkebangsaan Belanda mengajari saya. Dibantu warga di situ, kami membangun jembatan gantung 55 meter di kaki Pegunungan Andes, selesai dalam lima bulan.
Setelah itu saya kembali ke Swiss untuk kuliah. Tetapi baru enam bulan, banyak benturan dalam diri saya. Apakah pantas saya menikmati semua kemewahan ini sementara banyak orang di benua lain menderita? Saya memutuskan pergi dan mengarungi dunia pembelajaran yang tak ada akhirnya, yaitu kehidupan riil.
Pernah lumpuh
Melihat penampilannya sulit dibayangkan ia pernah lumpuh total diserang sindroma Guillain-Barré, ketika sedang membangun jembatan di Kamboja tahun 2002.
Saat dibawa ke rumah sakit, ia sudah mendekati saat-saat akhir hidupnya. Dibutuhkan 1,5 tahun untuk pengobatan dan terapi di Rumah Sakit Sirindhorn, Thailand. “Saya tak punya uang, jadi digratiskan,” kenangnya.
Namun, ia tak pernah kehilangan harapan. Ketika sudah mulai bisa bergerak, ia menggunakan mulutnya untuk mengetik dan memberi pengarahan kepada mitra kerjanya di Ekuador. „Itulah masa-masa tersulit. Dokter bilang saya tak bisa lagi membangun jembatan, tetapi saya yakin semangat saya akan menyembuhkannya.“
Apa kesulitan membangun jembatan di Indonesia?
Kepercayaan dari warga. Mereka pikir ini ’proyek’ dengan kucuran uang dari NGO atau pemerintah. Mereka tak percaya ada orang seperti saya, yang begitu saja datang menawarkan bantuan, tanpa keuntungan pribadi. Namun, kemudian mereka mau bekerja bersama untuk mewujudkan jembatan yang menjadi impian sejak lama. Mereka bekerja cepat, profesional dan tulus untuk kebaikan bersama.
Bagaimana Anda masuk ke suatu negara?
Mengetuk pintu, menulis surat dan dating sendiri. Biasanya saya berhubungan pejabat tinggi agar dapat izin impor material yang dibutuhkan untuk membangun jembatan. Di Kamboja langsung dengan PM Hun Sen, di Ekuador dengan presiden. Saya juga menemukan banyak teman membantu. Saya percaya masih banyak orang baik di lingkup pemerintahan Indonesia.
Bagaimana Anda memaknai hidup?
Saya tak perlu memberi makna. Jembatan itu yang memberi makna kepada banyak orang. Membangun jembatan bersama berarti membangun tapak kebebasan bersama, bergerak dari gelap menuju terang bersama. Makna hidup ada di situ.
Hidup memberi begitu banyak pertanda dan petunjuk. Pertanyaannya, mampukah kita menengarainya. Kalau mampu, apa yang akan dilakukan. Bagi saya, adalah melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain, memberi sumbangan kepada kemanusiaan. Saya memberikan hidup saya untuk membangun jembatan.
Pernah berpikir tentang masa depan?
Saya menikmati saat ini, di sini, sebagaimana adanya.
Apa buku yang Anda baca?
Buku-buku sejenis Siddhartha karya Herman Hesse, Kahlil Gibran, menonton film Gandhi, Cry Freedom dan menghidupi semangat mereka semua dalam hidup saya.
TONI RÜTTIMANN
• Lahir: Pontresina, dekat St Moritz, Swiss, 21 Agustus 1968
• Karya: bersama komunitas lokal di Ekuador, Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Argentina, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia membangun 556 jembatan gantung sejak 1987 sampai 2011 (13/8), berdampak pada 1.471.700 warga desa yang semula terisolasi dan dimiskinkan. Saat ini 41 jembatan sedang dibangun, 24 sedang disurvei dan 82 berada dalam daftar tunggu di Myanmar dan Ekuador.
-Kompas-
Jembatan Pembebasan
Toni Rüttimann (43) adalah warga dunia. Rumahnya di kaki langit. Ia ‚kaya-raya‘. Hartanya yang berlimpah itu bernama cinta. Wujudnya jembatan gantung yang dibangun bersama warga desa miskin. Di situ ia meletakkan hatinya.
Oleh Maria Hartiningsih.
Toni yang populer dengan julukan ‘Toni el Suizo’ (Tony dari Swiss) di Ekuador dan sekitarnya, mendeskripsikan kerja yang dihidupinya 24 tahun itu sebagai ‘kisah cinta’. “Membangun jembatan untuk mengurangi penderitaan mereka yang menderita adalah cara saya mengekspresikan rasa cinta pada kehidupan,” ungkap Toni.
Pada zaman seperti ini, Toni adalah manusia “langka”, begitu kata sosiolog Imam Prasodjo. Bersama sang istri, Gita, pasangan pendiri lembaga kemanusiaan Nurani Dunia itu banyak membantu Toni, khususnya ketika menghadapi kerumitan mengeluarkan kabel baja seberat 25 ton dari pabean.
Toni memulai kerja kemanusiaan yang unik, dengan membantu membangun jembatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Setelah jembatan pertama yang dibangun bersama korban gempa di Ekuador tahun 1987, ia juga membantu warga di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Sebanyak 556 jembatan gantung dengan panjang antara 30 sampai 264 meter telah dibangun. Di Indonesia, yang terpanjang, 95,49 meter di Lumajang, Jawa Timur.
Jembatan yang dibangun itu untuk menggantikan jembatan yang hanyut karena banjir bandang, gempa atau bencana lain. Namun, sebagian besar dibangun karena memang tak ada jembatan untuk melewati sungai yang arusnya sangat deras, atau di lembah dan di daerah-daerah terpencil.
Toni dijumpai pada petang terakhirnya di Indonesia, Minggu (14/8). Esoknya ia bertolak ke Myanmar, sebelum kembali ke Swiss untuk merawat ayahnya yang sakit.
“Keramat”
Toni mempertahankan biaya pembangunan jembatan serendah mungkin dengan kualitas terbaik. Jembatan serupa bisa berlipat harganya dengan „proyek“. Selama 20 tahun, tak satu pun jembatan yang dibangun rusak berat sehingga harus diganti.
Bahan kabel, pipa dan pelat baja diperoleh dari donasi pengusaha. Sumbangan uang berasal dari individu warga Swiss. Ia menolak bantuan dari pemerintah, dana hibah atau bantuan lembaga donor. Ia tak membayar dirinya, tak punya sekretaris, tak punya situs internet dan kantor. Ia tidur di rumah warga, menyantap makanan lokal. Namun, ia juga meminta warga yang butuh jembatan bekerja bersama-sama dan menyediakan material lokal, seperti batu dan pasir, untuk fondasi.
Semua kebutuhan hidupnya masuk ke dalam dua tas yang bisa dibawa ke kabin pesawat, termasuk laptop, telepon seluler, penyimpan data elektronik, dan beberapa file kerja. Ia terbang dengan tiket termurah, dan tak tinggal lebih dari lima hari di satu tempat.
Bagaimana Anda Hidup?
Hidup saya sederhana dan praktis. Banyak orang membantu, termasuk yang menyumbang uang untuk membeli kebutuhan pembangunan jembatan yang tak bisa didapat dengan gratis. Saya tak pernah minta sumbangan, tetapi kami, kolega para ahli las dan saya, selalu merasa cukup.
Jadi Anda tak minta sumbangan?
Mereka yang melihat saya di televisi meresponsnya. Di Swiss, pasangan yang menikah meminta tamu tidak memberi hadiah, tetapi uang untuk disumbangkan bagi pembangunan jembatan. Mereka yang meninggal berpesan agar uang untuk membeli karangan bunga disumbangkan. Beberapa lainnya menulis surat warisan.
Seorang anak berumur 10 tahun bermain biola di jalanan di Davos, dekat desa Ibu saya, menulis pesan di bawah dekat kotak sumbangan, ‘Saya bermain untuk jembatan Toni’. Ia mengirim kepada kami sekitar 400 franc Swiss.
Itu sebabnya setiap sen franc Swiss yang dipercayakan kepada saya sangat keramat, sekeramat jembatan yang kami bangun bersama.
Meluas ke Asia
Dalam perjalanannya 13 tahun pertama, Toni kemudian ditemani seorang ahli las, Walter Yanez, warga Ekuador yang militan dalam misi yang sama. Mereka keluar masuk mencari tempat-tempat paling terisolasi dan paling miskin di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, dan Argentina.
Pada tahun 2000, PM Hun Sen dari Kamboja meminta bantuan Toni membangun jembatan di negeri yang diluluhlantakkan perang itu. Toni bertolak ke Asia, sementara Walter melanjutkan kerja kemanusiaan di Amerika Latin di bawah pengawasan Toni. Dibantu ahli las, mekanik dan warga, smpai Agustus 2011, berhasil dibangun 214 jembatan di Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Laos.
Toni membutuhkan lima minggu dan tiga kali kunjungan untuk menyelesaikan satu jembatan gantung. Kunjungan pertama untuk mencari lokasi, membuat survei, menghitung biaya, dan meminta warga membentuk kelompok kerja untuk membantunya. Kunjungan kedua untuk membuat fondasi, butuh tiga minggu supaya benar-benar kering dan kuat. Ensembel jembatan membutuhkan beberapa hari. Setelah itu ia berlalu.
Bagaimana Anda memulai semua ini?
Suatu hari ketika baru lulus SMA tahun 1987, saya menonton berita di TV tentang gempa besar di Ekuador. Ribuan orang tewas dan kehilangan tempat tinggal. Saya merasa dipanggil unuk berbuat sesuatu. Ketika saya bilang kepada ayah, ia mengatakan, ‘Apa yang bisa kamu lakukan di sana? Kalau kamu tak pergi juga tak ada yang rugi.‘
Ayah benar. Tetapi saya harus pergi. Saya mendapat sumbangan dari teman-teman sekitar 9300 franc Swiss atau aekitar 7500 dollar AS saat itu untuk beli tiket dan berbagai keperluan nanti. Daerah bencana terletak 450 kilometer dari ibu kota, ke arah timur laut kawasan Amazon. Dibutuhkan tiga hari untuk mencapainya.
Gempa menyebabkan wilayah itu terisolasi. Bantuan sulit karena prasarana hancur. Waktu itu mulai terpikir membuat jembatan gantung. Saya mendapat bantuan pipa dan kabel baja dari perusahaan minyak Amerika, dan membeli keperluan lain seperti semen dari uang yang saya bawa. Seorang ahli perminyakan berkebangsaan Belanda mengajari saya. Dibantu warga di situ, kami membangun jembatan gantung 55 meter di kaki Pegunungan Andes, selesai dalam lima bulan.
Setelah itu saya kembali ke Swiss untuk kuliah. Tetapi baru enam bulan, banyak benturan dalam diri saya. Apakah pantas saya menikmati semua kemewahan ini sementara banyak orang di benua lain menderita? Saya memutuskan pergi dan mengarungi dunia pembelajaran yang tak ada akhirnya, yaitu kehidupan riil.
Pernah lumpuh
Melihat penampilannya sulit dibayangkan ia pernah lumpuh total diserang sindroma Guillain-Barré, ketika sedang membangun jembatan di Kamboja tahun 2002.
Saat dibawa ke rumah sakit, ia sudah mendekati saat-saat akhir hidupnya. Dibutuhkan 1,5 tahun untuk pengobatan dan terapi di Rumah Sakit Sirindhorn, Thailand. “Saya tak punya uang, jadi digratiskan,” kenangnya.
Namun, ia tak pernah kehilangan harapan. Ketika sudah mulai bisa bergerak, ia menggunakan mulutnya untuk mengetik dan memberi pengarahan kepada mitra kerjanya di Ekuador. „Itulah masa-masa tersulit. Dokter bilang saya tak bisa lagi membangun jembatan, tetapi saya yakin semangat saya akan menyembuhkannya.“
Apa kesulitan membangun jembatan di Indonesia?
Kepercayaan dari warga. Mereka pikir ini ’proyek’ dengan kucuran uang dari NGO atau pemerintah. Mereka tak percaya ada orang seperti saya, yang begitu saja datang menawarkan bantuan, tanpa keuntungan pribadi. Namun, kemudian mereka mau bekerja bersama untuk mewujudkan jembatan yang menjadi impian sejak lama. Mereka bekerja cepat, profesional dan tulus untuk kebaikan bersama.
Bagaimana Anda masuk ke suatu negara?
Mengetuk pintu, menulis surat dan dating sendiri. Biasanya saya berhubungan pejabat tinggi agar dapat izin impor material yang dibutuhkan untuk membangun jembatan. Di Kamboja langsung dengan PM Hun Sen, di Ekuador dengan presiden. Saya juga menemukan banyak teman membantu. Saya percaya masih banyak orang baik di lingkup pemerintahan Indonesia.
Bagaimana Anda memaknai hidup?
Saya tak perlu memberi makna. Jembatan itu yang memberi makna kepada banyak orang. Membangun jembatan bersama berarti membangun tapak kebebasan bersama, bergerak dari gelap menuju terang bersama. Makna hidup ada di situ.
Hidup memberi begitu banyak pertanda dan petunjuk. Pertanyaannya, mampukah kita menengarainya. Kalau mampu, apa yang akan dilakukan. Bagi saya, adalah melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain, memberi sumbangan kepada kemanusiaan. Saya memberikan hidup saya untuk membangun jembatan.
Pernah berpikir tentang masa depan?
Saya menikmati saat ini, di sini, sebagaimana adanya.
Apa buku yang Anda baca?
Buku-buku sejenis Siddhartha karya Herman Hesse, Kahlil Gibran, menonton film Gandhi, Cry Freedom dan menghidupi semangat mereka semua dalam hidup saya.
TONI RÜTTIMANN
• Lahir: Pontresina, dekat St Moritz, Swiss, 21 Agustus 1968
• Karya: bersama komunitas lokal di Ekuador, Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Argentina, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia membangun 556 jembatan gantung sejak 1987 sampai 2011 (13/8), berdampak pada 1.471.700 warga desa yang semula terisolasi dan dimiskinkan. Saat ini 41 jembatan sedang dibangun, 24 sedang disurvei dan 82 berada dalam daftar tunggu di Myanmar dan Ekuador.
-Kompas-
Mittwoch, 16. Juni 2010
KAPA Narkoba SMA Negeri 1 Purwokerto
Salam Kapa,
Selamat datang di dunia Anti Narkoba Smansa. Sekolah kita yang tercinta ini, memiliki wadah buat yang peduli dan berempati untuk memberantas narkoba. Tak lain dan tak bukan adalah Kesatuan Aksi Pelajar Anti Narkoba (KAPA Narkoba). Kapa Narkoba adalah suatu wadah yang diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK dan sederajat untuk menyatukan aksi berantas narkoba di kalangan pelajar. Kapa Narkoba berada di bawah langsung BNK (Badan Narkotika Kabupaten). Jadi, Kapa Narkoba itu penting banget keberadaannya karena pengguna narkoba yang paling banyak adalah kalangan remaja.
Tujuan dibentuknya Kapa Narkoba antara lain sebagai berikut :
Mengoptimalkan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja di kalangan pelajar.
Memberikan kegiatan alternatif yang positif konstruktif bagi pelajar untuk pengembangan diri dan ketrampilan berorganisasi dan bermasyarakat secara santun, dll.
Banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kapa Narkoba, antara lain kegiatan penyuluhan dan sosialisasi bahaya penyalahgunaaan narkoba, lalu ada buletin Kapa, ada pembagian stiker, kunjungan ke panti rehabilitasi, dan masih banyak lagi kegiatan menarik lainnya.
Kapa Narkoba Smansa juga udah menyumbangkan prestasinya buat sekolah, yaitu dengan berhasil menjadi Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Narkoba untuk Sekolah se-Kabupaten Banyumas yang diadakan tanggal 27 Desember 2007. Sekarang Kapa Narkoba baru akan memasuki tahun ke-4 nya di sekolah kita tercinta ini.
Jadi, tunggu apalagi. Ayo gabung bersama kita-kita. Mari kita wujudkan Indonesia bebas penyalahgunaan Narkoba.
Buat hidup lebih hidup tanpa NARKOBA
Selamat datang di dunia Anti Narkoba Smansa. Sekolah kita yang tercinta ini, memiliki wadah buat yang peduli dan berempati untuk memberantas narkoba. Tak lain dan tak bukan adalah Kesatuan Aksi Pelajar Anti Narkoba (KAPA Narkoba). Kapa Narkoba adalah suatu wadah yang diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK dan sederajat untuk menyatukan aksi berantas narkoba di kalangan pelajar. Kapa Narkoba berada di bawah langsung BNK (Badan Narkotika Kabupaten). Jadi, Kapa Narkoba itu penting banget keberadaannya karena pengguna narkoba yang paling banyak adalah kalangan remaja.
Tujuan dibentuknya Kapa Narkoba antara lain sebagai berikut :
Mengoptimalkan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja di kalangan pelajar.
Memberikan kegiatan alternatif yang positif konstruktif bagi pelajar untuk pengembangan diri dan ketrampilan berorganisasi dan bermasyarakat secara santun, dll.
Banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kapa Narkoba, antara lain kegiatan penyuluhan dan sosialisasi bahaya penyalahgunaaan narkoba, lalu ada buletin Kapa, ada pembagian stiker, kunjungan ke panti rehabilitasi, dan masih banyak lagi kegiatan menarik lainnya.
Kapa Narkoba Smansa juga udah menyumbangkan prestasinya buat sekolah, yaitu dengan berhasil menjadi Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Narkoba untuk Sekolah se-Kabupaten Banyumas yang diadakan tanggal 27 Desember 2007. Sekarang Kapa Narkoba baru akan memasuki tahun ke-4 nya di sekolah kita tercinta ini.
Jadi, tunggu apalagi. Ayo gabung bersama kita-kita. Mari kita wujudkan Indonesia bebas penyalahgunaan Narkoba.
Buat hidup lebih hidup tanpa NARKOBA
Abonnieren
Posts (Atom)




