Toni Rüttimann
Jembatan Pembebasan
Toni Rüttimann (43) adalah warga dunia. Rumahnya di kaki langit. Ia ‚kaya-raya‘. Hartanya yang berlimpah itu bernama cinta. Wujudnya jembatan gantung yang dibangun bersama warga desa miskin. Di situ ia meletakkan hatinya.
Oleh Maria Hartiningsih.
Toni yang populer dengan julukan ‘Toni el Suizo’ (Tony dari Swiss) di Ekuador dan sekitarnya, mendeskripsikan kerja yang dihidupinya 24 tahun itu sebagai ‘kisah cinta’. “Membangun jembatan untuk mengurangi penderitaan mereka yang menderita adalah cara saya mengekspresikan rasa cinta pada kehidupan,” ungkap Toni.
Pada zaman seperti ini, Toni adalah manusia “langka”, begitu kata sosiolog Imam Prasodjo. Bersama sang istri, Gita, pasangan pendiri lembaga kemanusiaan Nurani Dunia itu banyak membantu Toni, khususnya ketika menghadapi kerumitan mengeluarkan kabel baja seberat 25 ton dari pabean.
Toni memulai kerja kemanusiaan yang unik, dengan membantu membangun jembatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Setelah jembatan pertama yang dibangun bersama korban gempa di Ekuador tahun 1987, ia juga membantu warga di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Sebanyak 556 jembatan gantung dengan panjang antara 30 sampai 264 meter telah dibangun. Di Indonesia, yang terpanjang, 95,49 meter di Lumajang, Jawa Timur.
Jembatan yang dibangun itu untuk menggantikan jembatan yang hanyut karena banjir bandang, gempa atau bencana lain. Namun, sebagian besar dibangun karena memang tak ada jembatan untuk melewati sungai yang arusnya sangat deras, atau di lembah dan di daerah-daerah terpencil.
Toni dijumpai pada petang terakhirnya di Indonesia, Minggu (14/8). Esoknya ia bertolak ke Myanmar, sebelum kembali ke Swiss untuk merawat ayahnya yang sakit.
“Keramat”
Toni mempertahankan biaya pembangunan jembatan serendah mungkin dengan kualitas terbaik. Jembatan serupa bisa berlipat harganya dengan „proyek“. Selama 20 tahun, tak satu pun jembatan yang dibangun rusak berat sehingga harus diganti.
Bahan kabel, pipa dan pelat baja diperoleh dari donasi pengusaha. Sumbangan uang berasal dari individu warga Swiss. Ia menolak bantuan dari pemerintah, dana hibah atau bantuan lembaga donor. Ia tak membayar dirinya, tak punya sekretaris, tak punya situs internet dan kantor. Ia tidur di rumah warga, menyantap makanan lokal. Namun, ia juga meminta warga yang butuh jembatan bekerja bersama-sama dan menyediakan material lokal, seperti batu dan pasir, untuk fondasi.
Semua kebutuhan hidupnya masuk ke dalam dua tas yang bisa dibawa ke kabin pesawat, termasuk laptop, telepon seluler, penyimpan data elektronik, dan beberapa file kerja. Ia terbang dengan tiket termurah, dan tak tinggal lebih dari lima hari di satu tempat.
Bagaimana Anda Hidup?
Hidup saya sederhana dan praktis. Banyak orang membantu, termasuk yang menyumbang uang untuk membeli kebutuhan pembangunan jembatan yang tak bisa didapat dengan gratis. Saya tak pernah minta sumbangan, tetapi kami, kolega para ahli las dan saya, selalu merasa cukup.
Jadi Anda tak minta sumbangan?
Mereka yang melihat saya di televisi meresponsnya. Di Swiss, pasangan yang menikah meminta tamu tidak memberi hadiah, tetapi uang untuk disumbangkan bagi pembangunan jembatan. Mereka yang meninggal berpesan agar uang untuk membeli karangan bunga disumbangkan. Beberapa lainnya menulis surat warisan.
Seorang anak berumur 10 tahun bermain biola di jalanan di Davos, dekat desa Ibu saya, menulis pesan di bawah dekat kotak sumbangan, ‘Saya bermain untuk jembatan Toni’. Ia mengirim kepada kami sekitar 400 franc Swiss.
Itu sebabnya setiap sen franc Swiss yang dipercayakan kepada saya sangat keramat, sekeramat jembatan yang kami bangun bersama.
Meluas ke Asia
Dalam perjalanannya 13 tahun pertama, Toni kemudian ditemani seorang ahli las, Walter Yanez, warga Ekuador yang militan dalam misi yang sama. Mereka keluar masuk mencari tempat-tempat paling terisolasi dan paling miskin di Nikaragua, El Salvador, Meksiko, dan Argentina.
Pada tahun 2000, PM Hun Sen dari Kamboja meminta bantuan Toni membangun jembatan di negeri yang diluluhlantakkan perang itu. Toni bertolak ke Asia, sementara Walter melanjutkan kerja kemanusiaan di Amerika Latin di bawah pengawasan Toni. Dibantu ahli las, mekanik dan warga, smpai Agustus 2011, berhasil dibangun 214 jembatan di Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Laos.
Toni membutuhkan lima minggu dan tiga kali kunjungan untuk menyelesaikan satu jembatan gantung. Kunjungan pertama untuk mencari lokasi, membuat survei, menghitung biaya, dan meminta warga membentuk kelompok kerja untuk membantunya. Kunjungan kedua untuk membuat fondasi, butuh tiga minggu supaya benar-benar kering dan kuat. Ensembel jembatan membutuhkan beberapa hari. Setelah itu ia berlalu.
Bagaimana Anda memulai semua ini?
Suatu hari ketika baru lulus SMA tahun 1987, saya menonton berita di TV tentang gempa besar di Ekuador. Ribuan orang tewas dan kehilangan tempat tinggal. Saya merasa dipanggil unuk berbuat sesuatu. Ketika saya bilang kepada ayah, ia mengatakan, ‘Apa yang bisa kamu lakukan di sana? Kalau kamu tak pergi juga tak ada yang rugi.‘
Ayah benar. Tetapi saya harus pergi. Saya mendapat sumbangan dari teman-teman sekitar 9300 franc Swiss atau aekitar 7500 dollar AS saat itu untuk beli tiket dan berbagai keperluan nanti. Daerah bencana terletak 450 kilometer dari ibu kota, ke arah timur laut kawasan Amazon. Dibutuhkan tiga hari untuk mencapainya.
Gempa menyebabkan wilayah itu terisolasi. Bantuan sulit karena prasarana hancur. Waktu itu mulai terpikir membuat jembatan gantung. Saya mendapat bantuan pipa dan kabel baja dari perusahaan minyak Amerika, dan membeli keperluan lain seperti semen dari uang yang saya bawa. Seorang ahli perminyakan berkebangsaan Belanda mengajari saya. Dibantu warga di situ, kami membangun jembatan gantung 55 meter di kaki Pegunungan Andes, selesai dalam lima bulan.
Setelah itu saya kembali ke Swiss untuk kuliah. Tetapi baru enam bulan, banyak benturan dalam diri saya. Apakah pantas saya menikmati semua kemewahan ini sementara banyak orang di benua lain menderita? Saya memutuskan pergi dan mengarungi dunia pembelajaran yang tak ada akhirnya, yaitu kehidupan riil.
Pernah lumpuh
Melihat penampilannya sulit dibayangkan ia pernah lumpuh total diserang sindroma Guillain-Barré, ketika sedang membangun jembatan di Kamboja tahun 2002.
Saat dibawa ke rumah sakit, ia sudah mendekati saat-saat akhir hidupnya. Dibutuhkan 1,5 tahun untuk pengobatan dan terapi di Rumah Sakit Sirindhorn, Thailand. “Saya tak punya uang, jadi digratiskan,” kenangnya.
Namun, ia tak pernah kehilangan harapan. Ketika sudah mulai bisa bergerak, ia menggunakan mulutnya untuk mengetik dan memberi pengarahan kepada mitra kerjanya di Ekuador. „Itulah masa-masa tersulit. Dokter bilang saya tak bisa lagi membangun jembatan, tetapi saya yakin semangat saya akan menyembuhkannya.“
Apa kesulitan membangun jembatan di Indonesia?
Kepercayaan dari warga. Mereka pikir ini ’proyek’ dengan kucuran uang dari NGO atau pemerintah. Mereka tak percaya ada orang seperti saya, yang begitu saja datang menawarkan bantuan, tanpa keuntungan pribadi. Namun, kemudian mereka mau bekerja bersama untuk mewujudkan jembatan yang menjadi impian sejak lama. Mereka bekerja cepat, profesional dan tulus untuk kebaikan bersama.
Bagaimana Anda masuk ke suatu negara?
Mengetuk pintu, menulis surat dan dating sendiri. Biasanya saya berhubungan pejabat tinggi agar dapat izin impor material yang dibutuhkan untuk membangun jembatan. Di Kamboja langsung dengan PM Hun Sen, di Ekuador dengan presiden. Saya juga menemukan banyak teman membantu. Saya percaya masih banyak orang baik di lingkup pemerintahan Indonesia.
Bagaimana Anda memaknai hidup?
Saya tak perlu memberi makna. Jembatan itu yang memberi makna kepada banyak orang. Membangun jembatan bersama berarti membangun tapak kebebasan bersama, bergerak dari gelap menuju terang bersama. Makna hidup ada di situ.
Hidup memberi begitu banyak pertanda dan petunjuk. Pertanyaannya, mampukah kita menengarainya. Kalau mampu, apa yang akan dilakukan. Bagi saya, adalah melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain, memberi sumbangan kepada kemanusiaan. Saya memberikan hidup saya untuk membangun jembatan.
Pernah berpikir tentang masa depan?
Saya menikmati saat ini, di sini, sebagaimana adanya.
Apa buku yang Anda baca?
Buku-buku sejenis Siddhartha karya Herman Hesse, Kahlil Gibran, menonton film Gandhi, Cry Freedom dan menghidupi semangat mereka semua dalam hidup saya.
TONI RÜTTIMANN
• Lahir: Pontresina, dekat St Moritz, Swiss, 21 Agustus 1968
• Karya: bersama komunitas lokal di Ekuador, Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Argentina, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia membangun 556 jembatan gantung sejak 1987 sampai 2011 (13/8), berdampak pada 1.471.700 warga desa yang semula terisolasi dan dimiskinkan. Saat ini 41 jembatan sedang dibangun, 24 sedang disurvei dan 82 berada dalam daftar tunggu di Myanmar dan Ekuador.
-Kompas-
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen