Sonntag, 31. März 2013

Budaya Jerman

Awal sampai di Jerman bener-bener excited banget. Nggak nyangka gitu sekalinya naik pesawat langsung jauh dari Indonesia ke Jerman. Dan ketika sampai di Jerman disambut dengan suhu -15 derajat Celsius (kalo nggak salah, pokoknya dingin banget).


-Pusat kota Koethen-

Semuanya abu-abu karena mendung. Waktu itu gerimis di Tegel Airport Berlin. Sedikit foto-foto dan akhirnya kami semua diantar ke Wohnung (tempat tinggal) naik bus. Aku terkagum-kagum dengan transportasi di Berlin. Busnya berhenti menaikan dan menurunkan penumpang di halte. Orang-orang jalan di area khusus pejalan kaki dan semua serba teratur. Beda dengan Indonesia. Hehehe

Jerman, negara dengan banyak kebebasan. Yang membuat aku syok pertama kali saat perjalanan ke Wohnung adalah melihat tulisan "Erotik Museum". Semua teman-teman tertawa dan (mungkin) terkejut. Hahaha. Setelah sampai di Wohnung kami semua diajak makan ke restoran Indonesia namanya Nusantara. Dan aku kembali menemukan sesuatu yang sedikit membuat syok. Ada iklan dengan modelnya pada telanjang. Benar-benar berbeda jauh dengan Indonesia. Kalo di Indonesia udah di demo tuh. Katanya merusak moral atau apalah. Padahal sebenernya di Indonesia tanpa yang begituan juga udah pada rusak moralnya. Ups, maaf. Entah aku ini bego atau emang polos atau apalah nggak tahu. Yang jelas kampunganku keluar. hahaha.

Terus orang-orang disini ya pada cuek-cuek dan nggak SKSD, cenderung nggak ramah. Cuma kalo ada yang ramah, pasti dia ramah banget deh. Ketemu langsung nyapa. Hehehe. Terus orang sini kalo jalan pada cepet-cepet. Karena mungkin cuaca dingin dan ingin cepat sampai tujuan. Selain naik kendaraan umum, orang sini juga suka jalan kaki. Kalau di Indonesia, aku lebih suka jalan perlahan tau naik sepeda menikmati matahari dan sekeliling, walaupun itu siang-siang yang panas. Nggak heran kulitku gosong. Hahaha.


-Pusat kota kecil Koethen, hanya untuk pejalan kaki-

Aku terlalu takut kedinginan. Aku nggak pernah suka dingin. Padahal di Jerman seringnya dingin terus. Musim panas yang beneran panas paling cuma 1 bulan. Aku lebih baik kepanasan daripada kedinginan. Ya mungkin karena aku hidup 18 tahun di daerah tropis seperti Indonesia, dan sekalinya ke Jerman yang 4 musim aku jadi parno kedinginan gini. Hehehe. Musim panas di sini aja aku masih pake kemeja lengan panjang. Hehehe. Bersinarnya matahari di Jerman adalah anugrah terindah. Matahari membuat cerah segala suasana. Orang-orang di sini suka matahari. Kalo musim panas, orang-orang disini pada pake baju tipis-tipis banget, bahkan hampir telanjang. Tapi ya itulah budaya mereka.


-Ernst Reuter Platz dekat TU (Technische Universitaet/Universitas Teknik) Berlin-

Di sini orang-orang juga totalitas kerja banget. Selama setahun ini aku pernah 2 bulan kerja. Waktu liburan musim panas sama musim dingin. Aku pernah kerja jadi kasir 3 hari di Humana, tempat jual barang-barang second hand yang hasil penjualannya buat kegiatan sosial. Terus jadi buruh pabrik coklat sama pabrik makanan pesawat. Kerjanya ya bersih-bersih sama bungkus-bungkus. Asik banget kerja dan lumayan buat biaya hidup sehari-hari. Karena aku pernah kerja, aku jadi tahu susahnya cari duit dan capeknya kerja kasar. Senen-Jumat kerja, Sabtu seneng-seneng, Minggu kembali ngumpulin tenaga buat seminggu ke depan. Toko-toko juga pada tutup semua. Karena semua orang butuh istirahat. Tapi tetep ada sih toko yang buka, paling di tempat-tempat ramai kaya stasiun atau di kota besar.

Profesionalnya orang sini juga bikin aku kagum. Waktu aku kerja, ada bosku yang ngomelin aku. Jujur aku emang awal kerja keteteran banget. Ya kan baru, jadi sering salah. Hehe. Tapi pas jam istirahat, bosnya malah bercandaan sama aku. haha. Terus besok-besoknya jadi baik sama aku. haha. Intinya harus kerja yang bener, biar nggak diomelin. hehehe.

Dan hal paling membahagiakan waktu kerja adalah ketika kamu ketemu dengan sesama orang Indonesia. Kan jadi merasa ada teman satu tanah air. ;)

Oia ketepatan waktu disini juga bikin aku kagum. Jam buka kantor, toko, pokoknya semua terjadwal dengan baik. Semua fasilitas umum juga tepat waktu. Misal bus atau kereta. Kalo di jadwal misalnya dateng jam 10.10, ya pasti datengnya tepat jam segitu. Kalaupun ada telat, biasanya ada pemberitahuan sebelumnya. Keren. Dan biasanya kalau telat, orang-orang udah pada menggerutu. Hehehe. Beda banget waktu aku di Indonesia. Jaman masih kelas 7 SMP, jamannya ke sekolah dari rumah yang jaraknya 18 km. Bus cuma ada setengah jam sekali yang nggak tahu pasti datengnya jam berapa. Secara rumah orang tuaku di desa. Jadi setiap hari harus berangkat sekolah jam setengah 6 pagi. Angkot juga suka nge-time. Hahaha. Seakan-akan waktu di Indonesia itu lebih banyak dan banyak banget membuang-buang waktu untuk nungguin jadwal angkutan umum yang tak pasti. Tapi sebenernya naik angkutan umum di Indonesia itu asik. Cuma ya dimana-mana harus hati-hati. ;)

Orang-orang disini benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tak sedetikpun terlewati dengan sia-sia. Mananjemen waktu benar-benar harus bagus kalau kita mau semua hal dapat kita laksanakan sesuai jadwal.

Di Jerman, sampah dipisah-pisah. Ada sampah rumah tangga, sampah plastik, sampah besi, sampah kertas. Di sini jalanan rata-rata pada bersih semua. Kebersihan di sini benar-benar sangat diperhatikan. Hewan peliharaan juga dilindungi. Jarang ada kucing atau anjing liar di sini. Penyayang hewan di sini banyak. Pemerhati lingkungan juga banyak. Di sini banyak yang namanya taman kota atau ruang terbuka hijau.

Masalah makanan, yap, orang sini cenderung hidupnya flat dan monoton aja. Isinya cuma kerja, istirahat, kumpul sama keluarga atau teman di akhir pekan, atau beresin rumah. Menurutku, semua kegiatan mereka sudah terjadwal sedemikian rupa hingga hanya hal-hal penting saja yang mereka kerjakan. Begitu juga makanan. Makanan mereka kayanya cuma roti, daging,  salat, buah, susu, sereal. Serba praktis tapi mereka juga perhatikan gizinya kok. Kalo di Indonesia kan kadang namanya masak aja heboh dan bumbunya macem-macem. Di sini mah garem sama lada bubuk aja udah cukup. hehehe. Oia, bagi muslim, hati-hati memilih makanan.  Halal atau tidaknya kan kita kadang nggak tahu. Pilih makanan yang psti-pasti aja. Kalo sekiranya meragukan mending jangan beli atau jangan dimakan. Pilih apapun yang pasti-pasti aja, kan YOLO. hehe

Nah, yang paling bikin aku rada gimana banget dan syok adalah orang pacaran. Mereka peluk cium mesra-mesraan di tempat umum itu udah biasa. Hehehe. Kalo di Indonesia kan masih nggak sopan (setahuku sih begitu). Untuk orang yang nggak bakat pacaran kaya aku, aku merasa aneh. Dulu pas aku pacaran, ketemu pacarku aja groginya pake banget sampe salting (menggaram), apalagi pegangan tangan. Udah mau pingsan aku. Hahaha. Orang mabok di jalan juga banyak.

Di sini kadang ada orang yang rasis. Waktu aku kerja di pabrik aja aku dirasisin. Mungkin karena aku orang Asia. Mereka menganggap derajat orang asia lebih rendah. Dan aku kan berkerudung. Udah deh, kalo sekalinya dirasisin itu nggak enak. Tapi nggak semua rasis, orang-orang tertentu aja. Di Jerman pun masih ada kelompok-kelompok Nazi, terutama di daerah bekas Jerman Timur. Mereka agak rese dan kadang rasis juga sama orang asing. Hati-hati aja kalo ketemu sama mereka. Ciri-ciri mereka biasanya kepalanya botak, pake jaket kulit, sama sepatu boot. Tapi selama aku di Jerman (dan aku tinggal di daerah bekas Jerman Timur), alhamdulillah aku baik-baik saja. Intinya sih dimanapun berada harus tetep jadi anak baik, taat aturan, dan jangan lupa berdoa. Orang yang niatnya baik, pasti akan ada jalan baik buatnya juga kok. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Intinya selama setahun di Jerman ini aku belajar banyak tentang perbedaan yang mencolok antara Indonesia dan Jerman. Kalo kaya aku ya cuma bisa menyaring mana yang baik dan jeleknya. Yang baik diterapkan, yang buruk dibuang jauh. Intinya untuk terhindar dari hal-hal buruk, tetap harus pegang prinsip dan tujuan awal. Ingat selalu motivasi dan dukungan dari orang-orang yang mendukungmu, terutama orang tua. Jangan sampe deh mengecewakan mereka. Ingat selalu, jadi anak baik yang taat aturan itu banyak manfaatnya kok. Sudah ku buktikan. ;)

So enjoy your live, because YOLO. :D

My Birthday Photos, 19 Juni 2012


Putri, Clara, Juni, Wika (Tubies Koethen)



Make wishes sama mau tiup lilin dan potong kue



Arda, Juni, Clara, Gilang



Prince Duren Charming yang sekarang udah pecah




Hadiah ulang tahun dari teman-teman semua




TERIMA KASIH KEPADA:

  1. ALLAH SWT ATAS SEMUA NIKMAT
  2. SEMUA KELUARGA, SAHABAT, TEMAN, KERABAT ATAS DOA DAN HADIAHNYA.
 SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN. AKU SANGAT BERUNTUNG DAN SENANG PERNAH HADIR DALAM KEHIDUPAN KALIAN, KARENA KALIAN ADALAH ORANG-ORANG BESAR YANG TERHEBAT DI SELURUH ALAM SEMESTA.



Ibu, Bapak (di belakang berbaju merah), Tyas. Piknik terakhir ke Teluk Penyu 2 minggu sebelum aku berangkat ke Jerman.



CLIVE JIP. Sahabat-sahabat terbaikku dari SMP

Gejolak itu...

Sebenarnya tak pernah membayangkan berada di negara ini. Dulu hanya memimpikan tinggal di Selandia Baru atau Jepang. 2 negara itu benar-benar membuat tergila-gila. Tapi kenyataannya malah sampai di negeri Jerman.

 Keberangkatan ke Jerman dipenuhi banyak kontroversi. Sebenarnya orang tua sangat mendukung, namun kakek nenek sempat tidak menyetujuinya. Pada akhirnya aku tetap berangkat ke Jerman.

 Dan akhirnya saya pilih Jerman karena sekolah tekniknya sudah tak diragukan lagi. Dan teknik industri adalah tujuanku. Semangat dari orang tua yang menggebu, orang tua yang menginginkan anaknya kembali ke tanah air untuk membangun kampung halamannya setelah selesai menuntut ilmu.

 Sebenarnya aku sendiri ada maksud lain ke Jerman. Aku hanya ingin menghindar dari SNMPTN dan seseorang. Keinginan untuk ke Jerman sudah direncanakan sejak Desember 2010. Dan Maret 2011 ada seseorang datang. Namun orang tua tidak menyukainya dan aku harus menghindar darinya, bahkan untuk bertemanpun orang tuaku tetap tidak begitu setuju.

 Akhirnya Januari 2012 berangkatlah aku ke Jerman. Dengan segala usaha dan konsentrasi penuh untuk studi di jerman, dia masih selalu hadir di pikiranku. Padahal aku telah mencari orang lain yang lebih dekat denganku. Namun, namanya hati memang tak bisa dipaksakan. Aku masih ingat ketika ibu selalu menanyakan adakah tambatan hati baru ketika aku sudah di Jerman. Ibu selalu menanyakan itu karena beliau tahu, aku keras kepala sekali kalau menyangkut masalah hati. Memang sih aku cenderung genit dan suka berburu cowo cakep, tapi tetap saja yang dihati cuma si dia. Dan seiring berjalannya waktu, ikhlas itu akhirnya datang juga.

Mulai April 2012 hidupku berubah. Aku menemukan diriku kembali tanpa bayang-bayangnya. Toh dia juga sudah sangat bahagia di sana. Melihat dia bahagia, aku juga ikut bahagia. Terkadang bahagianya seseorang tidak harus dengan selalu ada di sisinya. Cukup dengan mendoakan, memantau dia dari jauh, itu sudah membahagiakan kita. Yang utama tetap ikhlas. Semoga dia selalu bahagia bersama kekasihnya sekarang. Amin.

Mungkin untuk move on itu gampang, namun ikhlasnya itu susah. Butuh waktu lama untuk ikhlas. Yang utama adalah jangan berlarut-larut, tetap berdoa dan ingat akan motivasi, cita-cita, dan keluarga, terutama orang tua.



-Musim Semi 2012 di Koethen. Jalan menuju Auslaenderbehoerde Koethen buat perpanjang Visa-

Freitag, 29. März 2013

Sekolah Tinggi di Jerman

Ada 2 macam sekolah tinggi di Jerman.
1. Universitas
2. Fachhochschule (FH)

Universitas ya layaknya universitas di Indonesia. Sistemnya kuliah di aula gede yang mahasiswanya banyak. Dan mahasiswanya memilih sendiri jam-jam kuliahnya. Kebanyakan  di universitas jarang ada praktek. 40% praktek, 60% teori. Kadang-kadang pelaksanaan ujian di universitas dilakukan saat liburan, contoh di akhir pekan dan libur musim dingin atau musim panas. Karena prakteknya sedikit, kadang-kadang waktu liburan digunakan buat praktikum.

Kalau di FH mahasiswanya lebih sedikit. Biasanya dibagi per kelas-kelas kecil yang isinya kurang lebih 30 orang. Dosen juga lebih kenal ke mahasiswanya karena nggak terlalu banyak. Biasanya jadwal kelasnya udah ditentukan dari Senin-Jumat dan nggak nganggu waktu libur. Ujian juga nggak pas liburan. 40% teori, 60% praktek. Kalo buat yang suka praktek dan ngantuk pas teori sih mending daftar FH aja.

Kata kakak kelas juga FH lebih sedikit mudah dibanding universitas. Tapi kalo yang mau ambil kedokteran, itu harus di universitas.

Donnerstag, 28. März 2013

Studienkolleg

Calon mahasiswa asing di Jerman, haruslah mengikuti program pra-universitas (Studienkolleg/STK, bahasa gaulnya Studkol) selama 2 semester. Bisa dibilang Studienkolleg itu kaya SMA kelas 13. Materi-materi pelajaran juga kaya SMA. Cuma yang ditekankan di Studienkolleg tetaplah pelajaran Bahasa Jerman (Deutsch). Kalau dalam satu semester Deutsch nggak lulus, ya harus ngulang semester itu lagi sampe lulus. Cuma ya pelajaran yang lainnya juga harus lulus.

Studkol di Jerman juga udah ada jurusan-jurusan umumnya.
1. T-Kurs (Teknik)
2. W-Kurs (Ekonomi)
3. G-Kurs (Kaya Sejarah sama Germanistik)
4. SW-Kurs (Ilmu Sosial)
5. M-Kurs (Kedokteran)

Nah tinggal pilih tuh mau jurusan apa yang sesuai sama keinginanmu. hehe. Kalo mau masuk studkol ada tesnya. Biasanya tes bahasa Jerman sama Matematika. Oia, kalo mau ke jerman buat kuliah S1 disarankan paling nggak udah pernah belajar bahasa Jerman sampe B1 atau B2.

Jadi kenapa ada Studkol? Ya, Studkol itu semacem penyetaraan buat calon mahasiswa asing sebelum kuliah. Namanya juga mahasiswa asing, bahasanya juga belum terlalu lancar, jadi dilancarkan dulu nih 2 semester, biar nggak keteteran waktu kuliah. Kalo dari pengalaman kakak kelas sih kadang mereka keteteran juga. Tapi pasti ada jalan dan dimudahkan kok dalam menuntut ilmu. Amin.

Di akhir semester 2 ada namanya Feststellungsprufung (FSP). Ini semacem ujian akhir studkol. Nilai dari FSP dan olahan semua nilai selama studkol dicantumin di Zeugnis (ijasah). Ijasah studkol ini sama kaya Abitur (ijasah sekolah lanjutan atasnya Jerman) yang digunakan untuk mendaftar kuliah di Universitas atau Fachhochschule (FH). Tapi nggak cuma nilai di Abitur aja yang dipake  buat daftar kuliah, nilai rapot kelas 3 SMA sama nilai UAN dan UAS juga dipertimbangkan lho.

Oia, mahasiswa asing itu diberi waktu maximal 2 tahun buat masuk kuliah sejak tanggal dia datang ke jerman. Jadi dalam 2 tahun harus kelar studkol dan hal lainnya yang menunjang kuliah, misalnya praktikum dan sekolah bahasa. Kalau dalam 2 tahun nggak dapet tempat kuliah, itu bisa dideportasi dari Jerman. Dianggapnya kita nggak sanggung kuliah disini.

Nah selama studkol diusahakan bagus ya. Terserah deh mau studkol di kota manapun di Jerman, di kota kecilpun semua studkol standarnya sama. Yang penting harus tetap semangat belajar, ya walaupun cuma mengulang pelajaran SMA, tapi kan semakin banyak mengulang akan semakin mahir dan bagus. hehe. Dan biasanya sih ada banyak cerita-cerita menarik pada saat studkol. Nikmatilah studkol yang cuma sebentar itu, karena masa-masa studkol akan dirindukan layaknya masa-masa SMA. Oia, jangan sering bolos juga ya, karena absensi juga menentukan kelulusan. Harus rajin ya :)

VISA

Nah ini dia, nyawa kedua setelah nyawa diri sendiri kalau tinggal di negeri orang. Visa alias izin tinggal inilah yang dari akhir tahun 2012 sampai 25 Maret 2013 kemarin bikin uring-uringan. Sampe-sampe aku jadi berubah, nggak santai sama orang dan puncaknya aku putus sama pacarku. Hahahaha. Nggak sih, sebenernya masalah visa adalah salah satu pendukung kenapa aku putus sama pacarku. Nggak cuma itu, aku terlalu egois mikirin urusanku sendiri jadi aku pikir aku nggak akan bisa ngurus pacarku. Dan bener kan, sekarang aku emang hampir nggak ada waktu buat pacarku. Untung dia udah kuputusin. Maaf.

*ini kenapa malah curhat* hahahaha. Nggak papa lah ya, curcol.

Jadi ngurus visa ke atau perpanjangan visa di Jerman itu lumayan susah. Harus ada alasan bener-bener mau ngapain di Jerman. Pemerintah Jerman nggak mau ya ngurusin orang-orang yang nggak jelas. Menurut pengalaman waktu pertama ngajuin visa berangkat ke Jerman lumayan ribet. Tapi waktu itu aku diurus agen studiku, dan untungnya aku udah dapet Studienkolleg (Studienkolleg akan dibahas di postingan selanjutnya). Jadi dalam waktu 2 minggu visaku udah kelar. 18 Januari 2012 aku berangkat ke Jerman. Ada teman-temanku yang berangkatnya bulan Februari 2012 karena ya itu, visanya belum jadi. Ada yang butuh waktu 2 bulan lebih karena mereka ada yang pake alasan sekolah bahasa dulu dan belum dapet Studienkolleg.

Itu visa awal berangkat ke Jerman cuma dapet 3 bulan. Selanjutnya harus diperpanjang masa berlakunya kalau memang ingin lanjut di Jerman. hehe. Perpanjangan visa pertamaku berlangsung di sebuah kota kecil namanya Koethen (harusnya oe=o pake titik 2 di atasnya). Itu adalah kota tempat aku dapet Studienkolleg. Namanya  Landesstudienkolleg Hochschule Anhalt, di negara bagian Sachsen-Anhalt. Nggak jauh kok dari Berlin. Naik kereta cuma 2 jam. Perpanjangan visa pertama berlangsung sangat lancar. Aku nggak perlu kasih berkas-berkas lagi karena udah dikirim dari kedutaan besar Jerman di Jakarta waktu ngajuin visa pertama pas udah dapet Studienkolleg. Cuma ada berkas tambahan yaitu data asuransi kesehatan yang baru diurus setalah aku nyampe Jerman. Uang juga masih full 8040 Euro di account Deutsche Bank. So dapet lah aku visa 1 tahun di Koethen selama menuntut ilmu 1 tahun di Studienkolleg.

Nah alhamdulillah sekali aku lulus Studienkolleg 1 tahun. Dari Maret 2012 dan lulus Januari 2013. Harusnya sih aku lanjut kuliah di April 2013. Tetapi jurusan yang aku pengin cuma buka buat Oktober 2013. So, terpaksa aku nganggur. Nah April besok tanggal 8, visaku habis coy. paling nggak sebulan sebelumnya harus ngajuin perpanjangan visa lagi. Kalo di Koethen, perpanjangan visa itu dilihat dari uang di  account bank. Duitku waktu itu tinggal dikit. Kalo mau perpanjang visa 1 tahun, harus ada 7906 euro. Itungannya untuk mahasiswa, 659 euro per bulan. jadi uang di account bank berapa, habis itu dibagi 659 euro. Misal uang tinggal 4000 : 659 = 6,.... Jadi dikasi perpanjangan visa cuma 6 bulan. Dan waktu itu, uangku di bank nggak nyampe 3000. Terus waktu aku ke Auslaenderbehoerde (kantor buat ngurus visa), ditolak dong buat perpanjang visa. Paling nggak uangku harus ada 6000 euro.

Sebenernya dari akhir desember 2012 aku udah mikir mau pindah dari koethen setelah lulus Studienkolleg. Cuma aku bingung dimana. Aku nyari kota-kota gede yang nggak liat duit buat perpanjang visa. 3 kota telah ku tetapkan Berlin, Leipzig, Aachen. Nah alesannya apa pindah kesana? Kebetulan, jurusan kuliah yang aku pengin butuh vorpraktikum (praktikum sebelum kuliah biasanya 5-13 minggu). Jadi aku nyari praktikuman di 3 tempat itu. Susahnya cari praktikuman. 2 bulan aku ngajuin lamaran praktikum ditolak terus. Akhirnya baru dapet tanggal 15 Maret 2013 di Berlin. Alhamdulillah sekali. Dan tanggal 26 Maret 2013 aku ngajuin visa dan langsung jadi dan berlaku sampai 19 Januari 2014. Langsung plong. hohoho

Waktu ngurus visa di Berlin, pegawainya bilang begini, "Anda kan datang tanggal 19 Januari 2012, kenapa cuma dapet perpanjangan visa 1 tahun sampai 8 April 2013?"
Aku jawab, "saya nggak tahu. ya memang dapetnya segitu."
Pegawai, "oooo. Anda kan masih dalam status masa persiapan kuliah (Studienkolleg, Sekolah Bahasa, Vorpraktikum dll) harusnya anda dapat masa perpanjangan visa 2 tahun sejak kedatangan anda di Jerman. Sekarang visa anda saya perpanjang sampai 19 Januari 2014 ya. Lalu visa anda saya tempel di paspor ya, itu bisa menghemat biaya 50 euro daripada pake visa yang kartu. Lalu, bulan Oktober nanti anda harus dapat tempat kuliah agar visa anda bisa diperpanjang masa berlakunya dan berubah status menjadi mahasiswa."
Perpanjang visa di kota besar memang kadang nggak terlalu ribet karena banyak orang asing juga di kota besar. hehe

Akhirnya saya dapet visa seharga 30 euro dan langsung jadi. Subhanallah sekali. Diluar dugaan bung.

 Ini visa awal berangkat ke Jerman

Visa sekarang. :D